Juli 13, 2024

SUARA AKAR RUMPUT

STN Komentar Soal Konawe Kota Padi ; Tak Hanya Hirilisasi Pertanian Harmin Ramba Tapi Juga Gerakan Sosial

3 min read

Suara Pinggiran, Unaaha –

Daftar panjang dukungan kelompok tani dan nelayan terhadap kebijakan “Konawe Kota padi” semakin bertambah. Di Kabupaten Konawe – Sulawesi Tenggara, Serikat Tani Nelayan (STN) menyatakan dukungannya secara resmi dan terbuka kepada Pj Bupati Konawe Harmin Ramba terkait kebijakan Hirilisasi Pertanian tahun 2024.

Ketua Serikat Tani Nelayan (STN) Konawe, Jumran, S.IP mengungkapkan alasan petani dan nelayan mendukung “Konawe Kota Padi” adalah lantaran komitmennya terhadap sektor pertanian dan perikanan melalui program hilirisasi di 21 komoditas.

“Hilirisasi sebagai proses mengolah bahan mentah menjadi produk turunan bernilai tambah merupakan komitmen strategis nasional di sektor pertanian dan perikanan yang oleh PJ Bupati Konawe diaplikasikan dengan cerdas dan tepat” terangnya.

Sebagai proses yang memberikan nilai tambah, lanjutnya, hilirisasi di bidang pertanian dipastikan menjadi salah satu kunci kesejahteraan bagi petani. Pasalnya, selama ini petani cenderung menjual produknya secara langsung saat panen berupa gabah tanpa terlebih dahulu mengolahnya menjadi padi.Karenanya, keuntungan yang diterimanya pun lebih kecil.

“Semua orang tahu bahwa menjual barang mentah pasti lebih murah ketimbang menjual barang jadi atau setengah jadi. Maka jika petani kemudian difasilitasi untuk melakukan hilirisasi, pendapatan yang akan diterimanya jelas akan meningkat signifikan” imbuhnya.

Menurut Jumran, yang juga merupakan Ketua Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) Kabupaten Konawe ini, semangat yang melatarbelakangi hirilisasi sektor pertanian bagi para petani adalah semangat menggeser paradigma dan status petani gabah menjadi petani beras.

Kota Padi Sebagai Gerakan Sosial

Petani Konawe menurut Jumran telah lama terjebak dalam siklus hidup yang sama dimana titik kesejahteraan belum pula tercapai sesuai yang diharapkan. Atas dasar itulah menurut Jumran, agar Konsep Kota Padi dapat terlaksana baik, Persfektif gerakan sosial harus pula melatarbelakangi gagasan tersebut dimana petani tidak lagi menjadi objek, namun adalah sebagai subjek perubahan.

“Selain dipandang sebagai program pemerintah, kami berharap Hilirisasi Pertanian dan Konsep Kota Padi mesti dipandang juga sebagai betuk gerakan sosial. Harus ada keterlibatan langsung dari petani atas kebijakan ini, sebab Petanilah yang lebih mengetahui problematika mereka”tukasnya lagi

Ia pula menuturkan, pembangunan pertanian tanpa upaya menggeser paradigma lama ke paradigma baru yang lebih berkeadilan hanya akan menjadikan petani jalan ditempat dan berkutat pada persoalan klasik, kesejahteraannya jauh panggang dari api.

Komitmen Pj. Bupati Konawe Harmin Ramba

Sementara Harmin Ramba, Pj. Bupati Konawe dalam Sambutannya di kegiatan Temu Bisnis Wirausaha Agro Konawe Kota Padi (01/03/2024 menjelaskan, petani perlu diberi pencerahan terkait hilirisasi pertanian, terutama menyangkut nilai tambah ekonomi yang dapat memberikan keuntungan signifikan.

“Kedepan, melalui pemerintah Kabupaten Konawe, petani bakal difasilitai untuk dapat menjual hasil usaha tani padinya dalam bentuk beras. Hal ini secara Otomatis akan memberikan nilai tambah sekaligus keuntungan bagi para petani-petani kita” tegadnya.

Pemerintah melalui tenaga Penyuluh Pertanian (PPL), lanjutnya, diharapkan mampu untuk menjelaskan kepada para petani padi, soal keuntungan jika mereka menjual beras dari pada menjual gabah.

Salah satu langkah yang akan dilakukan yakni memfasilitasi dan membantu para petani dengan mesin penggilingan padi skala mini, yang pengelolaannya dapat dilakukan oleh Kelompok Tani (Poktan) atau gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

“langkah mengolah gabah menjadi beras, diarahkan pada kewenangan Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian KUKM, atau Kemenko Perekonomian. Kementerian Pertanian sendiri, diupayakan agar tetap fokus ke langkah peningkatan produksinya” ungkapnya lagi.

Lebih jauh, dalam perkembangannya, para Penyuluh Pertanian dapat mengawalnya sekaligus mengedukasi petani dengan materi pemasaran dan perdagangan. Langkah ini merupakan awal dari lahirnya Petani Pengusaha.

Pada prinsipnya, menurut Harmin hal itulah yang melatarbelakangi konsep hilirisasi pada sektor pertanian. Melalui usaha tani padi yang dikelola petani, upayanya dititikberatkan agar berakhir menjadi komoditas beras dan bukan lagi berujung hanya pada produk gabah. Karenanya, Indonesia perlu mengubah paradigma petani menjadi petani beras. Bukan petani gabah.(*)

Laporan : Fidel Muhammad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *