Daun Katuk Jadi Peluang Bisnis Pakan Ternak, Slamet Riadi Sukses Kirim 20 Ribu Bibit ke Mamuju
2 min read
Daun Katuk Jadi Peluang Bisnis Pakan Ternak, Slamet Riadi Sukses Kirim 20 Ribu Bibit ke Mamuju
Konawe, suarapinggiran.com – Tanaman daun katuk yang selama ini dikenal sebagai sayuran rumahan dan pelancar ASI, kini mulai dilirik sebagai komoditas bisnis bernilai ekonomi, khususnya sebagai bahan baku pakan ternak dan ikan. Peluang ini mulai ditangkap oleh warga di Kabupaten Konawe.
Salah satunya adalah Slamet Riadi, warga Desa Dawi-Dawi, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, yang secara konsisten mengembangkan budidaya tanaman katuk. Tidak hanya untuk konsumsi lokal, Slamet berhasil menjadikan katuk sebagai komoditas usaha yang menembus pasar luar daerah.

Bahkan, baru-baru ini Slamet Riadi tercatat telah berhasil mengirim sebanyak 20 ribu bibit katuk ke Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, untuk memenuhi permintaan pengembangan budidaya dan kebutuhan bahan baku pakan.
“Awalnya hanya coba-coba dari pekarangan rumah. Tapi ternyata permintaannya cukup tinggi, bukan hanya untuk sayur, tapi juga untuk pakan ternak dan ikan,” ujar Slamet Riadi saat ditemui di kebun katuk miliknya.
Ia mengaku terinspirasi dari berbagai pemberitaan media nasional yang mengulas keberhasilan petani di sejumlah daerah dalam membudidayakan katuk untuk kebutuhan industri, mulai dari pakan ternak, pakan ikan, hingga bahan baku suplemen herbal.

Menurut Slamet, tanaman katuk sangat cocok dikembangkan di wilayah Konawe karena relatif mudah dibudidayakan, tahan terhadap kondisi cuaca, serta dapat dipanen secara berkala. Hal ini menjadikan katuk sebagai sumber pendapatan berkelanjutan bagi petani desa.
“Kalau dikelola serius, katuk ini bisa jadi peluang usaha baru. Pengiriman bibit ke Mamuju itu bukti bahwa Konawe punya potensi besar,” jelasnya.
Pengembangan katuk sebagai bahan pakan dinilai sejalan dengan upaya penguatan pakan lokal dan pengurangan ketergantungan pada bahan baku pakan dari luar daerah. Selain itu, pengolahan katuk dalam bentuk bibit unggul, katuk kering, atau tepung katuk juga mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Slamet berharap ke depan ada dukungan dari pemerintah daerah, kelompok tani, maupun pihak swasta untuk memperluas budidaya dan membuka akses pasar yang lebih luas.
“Kalau ini dikembangkan secara kolektif, katuk bisa menjadi komoditas unggulan baru desa dan ikut menggerakkan ekonomi masyarakat Konawe,” pungkasnya.(*)
Laporan : Haris

