Eks Senior Manager External Affair SCM, Bongkar Polemik Routa: “Jangan Jadikan Moratorium Tameng untuk Menghindari Janji”
3 min read
Eks Senior Manager External Affair SCM, Bongkar Polemik Routa: “Jangan Jadikan Moratorium Tameng untuk Menghindari Janji”
Routa, suarapinggiran.com – Polemik pembangunan smelter di Routa kembali memanas. Kali ini, suara keras datang dari Wagimin, mantan Senior Manager External Affair PT SCM, yang secara terbuka mendukung gerakan masyarakat yang menuntut realisasi janji hilirisasi.
Menurut Wagimin, narasi moratorium yang belakangan dijadikan alasan penundaan pembangunan smelter justru menimbulkan pertanyaan besar di tengah publik.
“Kalau sejak awal smelter dijadikan janji strategis untuk mendapatkan dukungan sosial, maka hari ini masyarakat berhak menagih. Jangan jadikan moratorium sebagai tameng untuk menghindari komitmen,” tegas Wagimin pada media ini, senin (06/04/2026)
Janji Awal Tidak Boleh Kabur
Wagimin menilai, keberadaan investasi tambang di Routa sejak awal dibungkus dengan semangat hilirisasi dan peningkatan nilai tambah daerah. Namun hingga kini, yang berjalan dominan adalah aktivitas penambangan.
“Kalau hanya eksploitasi ore yang berjalan, lalu di mana posisi hilirisasi yang dulu disampaikan? Masyarakat tidak boleh dianggap lupa,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan smelter bukan sekadar proyek industri, tetapi simbol transformasi ekonomi Routa agar tidak terus menjadi wilayah penghasil bahan mentah.
Ia mengungkapkan bahwa rencana pembangunan smelter kala itu telah disosialisasikan secara luas, tidak hanya kepada masyarakat Routa, tetapi juga kepada pemerintah daerah dan lembaga legislatif.
“Prosesnya ada. Sosialisasi dilakukan di Routa. Penyampaian juga dilakukan ke Pemda Provinsi, Pemda Konawe, dinas-dinas terkait baik di tingkat provinsi maupun kabupaten, bahkan ke DPRD. Jadi ini bukan cerita kosong,” ujarnya
Transparansi Dipertanyakan
Wagimin juga mempertanyakan sejauh mana keterbukaan perusahaan dalam menyampaikan roadmap pembangunan smelter.
“Apakah ada timeline yang jelas? Berapa persen progres riilnya? Kalau memang ada kendala regulasi, sampaikan secara terbuka. Publik jangan hanya diberi pernyataan normatif,” katanya.
Menurutnya, ketiadaan informasi yang transparan justru memicu kecurigaan dan memperlebar jarak kepercayaan antara perusahaan dan masyarakat.
Aspirasi Masyarakat Bukan Ancaman
Ia menegaskan bahwa gerakan masyarakat yang menuntut smelter bukan gerakan anti-investasi.
“Justru masyarakat sedang mengawal agar investasi ini tidak sekadar mengeruk sumber daya tanpa memberi nilai tambah maksimal bagi daerah,” ucapnya.
Wagimin mengingatkan, jika hilirisasi tidak diwujudkan, maka Routa berisiko hanya menjadi titik ekstraksi sementara, sementara keuntungan strategis jangka panjang dinikmati di luar daerah.
Ujian Kredibilitas
Lebih jauh, Wagimin menyebut polemik ini sebagai ujian kredibilitas.
“Kepercayaan publik dibangun dari konsistensi antara janji dan tindakan. Kalau janji hilirisasi dulu menjadi alasan utama, maka realisasinya adalah tanggung jawab moral dan sosial,” tegasnya.
Ia mendorong agar perusahaan duduk bersama masyarakat dan pemerintah daerah untuk membuka data, roadmap, serta komitmen jangka panjang secara jelas dan terukur.
“Routa tidak boleh hanya jadi cerita tambang. Routa harus jadi cerita nilai tambah. Dan itu hanya bisa terjadi kalau smelter benar-benar diwujudkan,” pungkasnya.
Sebagai mantan Senior Manager External Affair PT SCM, Wagimin juga menyatakan dirinya dapat memberikan contoh konkret perusahaan tambang nikel dengan IUP yang lebih kecil dari SCM namun mampu membangun smelter.
Ia mengaku pernah bekerja di salah satu perusahaan tersebut dan terlibat langsung sebagai bagian dari pelaku dalam proses sosialisasi bersama Pemerintah Provinsi, Pemerintah Daerah, tingkat kecamatan, desa, serta berbagai lembaga masyarakat lainnya.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan smelter bukan semata soal luas IUP, melainkan soal komitmen, kesiapan perencanaan, serta kemampuan membangun komunikasi sosial yang kuat sejak awal.(*)
Laporan: Umar Dafani

