LESTARI BUDAYA

April 8, 2026

SUARA AKAR RUMPUT

Beasiswa SCM Bukan Mukjizat: HIPPMAR Pertanyakan Euforia Apresiasi terhadap Korporasi

2 min read

Oplus_131072

Beasiswa SCM Bukan Mukjizat: HIPPMAR Pertanyakan Euforia Apresiasi terhadap Korporasi

KONAWE, suarapinggran.com – Pernyataan apresiatif dari sejumlah kecil kalangan dan organisasi mahasiswa yang pro korporasi terhadap program beasiswa PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menuai reaksi keras dari Himpunan Pelajar Mahasiswa Routa (HIPPMAR).

Ketua HIPPMAR, Umar, menilai sikap tersebut terlalu prematur dan berpotensi mengaburkan substansi tanggung jawab sosial perusahaan terhadap putra daerah di wilayah terdampak, khususnya Routa.

“Kami mempertanyakan dasar apresiasi itu. Beasiswa merupakan kewajiban konstitusional perusahaan melalui skema CSR/PPM, bukan ‘kebaikan hati’ yang harus disambut dengan sorak-sorai seolah-olah perusahaan telah melakukan mukjizat,” tegas Umar dalam keterangan persnya, Minggu (05/04/2026).

Umar juga menyoroti kecenderungan sikap lunak sebagian kalangan mahasiswa yang dinilai berpotensi mencederai independensi gerakan mahasiswa itu sendiri.

“Jika sejak awal sudah memberi pujian berlebihan, apakah masih memiliki keberanian bersuara kritis ketika suatu saat ditemukan pelanggaran lingkungan atau pelanggaran HAM di wilayah tambang?” ujarnya.

HIPPMAR turut menyoroti aspek representasi penerima beasiswa. Menurutnya, publik perlu mengetahui sejauh mana program tersebut benar-benar menyasar mahasiswa terdampak di lingkar tambang, bukan sekadar simbolis.

“Jangan sampai isu beasiswa ini hanya menjadi komoditas politik organisasi, terkesan pro perusahaan namun tidak objektif dan sarat kepentingan,” tambahnya.

Tak hanya itu, HIPPMAR juga meminta transparansi data dari PT SCM terkait total kuota beasiswa, skema distribusi, serta relevansinya dengan nilai keuntungan yang diperoleh dari aktivitas pertambangan di Routa. Umar menegaskan, masyarakat berhak mengetahui angka konkret, bukan sekadar seremoni penyerahan bantuan.

“Masyarakat Routa yang merasakan langsung dampaknya—debu, hilangnya hutan, dan perubahan sosial—tidak membutuhkan narasi apresiasi di media. Yang dibutuhkan adalah tanggung jawab yang terukur dan berkeadilan,” katanya.

HIPPMAR menegaskan akan terus mengawal realisasi beasiswa tersebut agar tidak terjadi tebang pilih serta memastikan mahasiswa asal Routa menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap administrasi perusahaan.(*)

Laporan: Umar Dafani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *