LESTARI BUDAYA

Maret 12, 2026

SUARA AKAR RUMPUT

Di Bawah Hujan, Ibu-Ibu Routa Kirim Surat ke Negara, Adukan Dugaan Pelanggaran HAM PT SCM

2 min read

Oplus_0

Di Bawah Hujan, Ibu-Ibu Routa Kirim Surat ke Negara, Mengadu Dugaan Pelanggaran HAM Aktivitas PT SCM

Routa, suarapinggiran.com — Di bawah terpal sederhana yang menahan derasnya hujan, sekelompok ibu-ibu di Kecamatan Routa berdiri berjejer sambil memegang sebuah surat. Surat itu bukan sekadar kertas biasa. Ia adalah harapan.

Harapan agar negara mau mendengar suara mereka.

Para perempuan desa tersebut menyatakan telah mengirimkan surat pengaduan kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang mereka kaitkan dengan aktivitas pertambangan PT Sulawesi Cahaya Mineral, anak perusahaan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe.

Salinan surat itu juga ditembuskan kepada Kementerian Hak Asasi Manusia Republik Indonesia agar pemerintah pusat mengetahui langsung keluhan masyarakat desa di wilayah lingkar tambang.

Bagi para ibu-ibu ini, menulis surat kepada negara bukanlah perkara mudah. Namun mereka merasa tidak memiliki banyak pilihan selain berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap kondisi yang mereka rasakan.

Warga Routa siap mengirimmemegang Surat Aduan Kepada Komnas HAM RI

“Kami hanya masyarakat kecil. Kami ingin negara mendengar kami,” ujar salah satu warga yang ikut menandatangani surat tersebut.

Dalam sistem hukum Indonesia, masyarakat memang memiliki hak untuk mengajukan pengaduan dugaan pelanggaran HAM kepada Komnas HAM sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Lembaga tersebut memiliki kewenangan menerima laporan masyarakat serta melakukan pemantauan dan penyelidikan terhadap dugaan pelanggaran HAM. 

Langkah warga Routa ini menunjukkan bahwa masyarakat desa mulai menggunakan mekanisme hukum untuk memperjuangkan hak mereka sebagai warga negara.

Bagi para ibu yang berdiri di bawah hujan itu, perjuangan ini bukan sekadar soal tambang. Ini tentang masa depan keluarga mereka. Tentang tanah tempat mereka hidup, tentang hak mereka untuk merasakan kesejahteraan dari kekayaan alam yang ada di wilayahnya sendiri.

Kini mereka hanya menunggu satu hal: apakah suara dari desa kecil di Routa itu akan benar-benar sampai ke Jakarta.(*)

Laporan: Umar Dafani 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *