LESTARI BUDAYA

Mei 22, 2026

SUARA AKAR RUMPUT

Kami Hidup dari Kopi dan Rotan”: Suara Seorang Ibu dari Routa yang Anaknya Kini Ditahan Polda Sultra

3 min read

“Kami Hidup dari Kopi dan Rotan”: Suara Seorang Ibu dari Routa yang Anaknya Kini Ditahan Polda Sultra

Routa, suarapinggiran.com (22 Mei 2026) – Di sebuah sudut Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, suara seorang ibu tua terdengar lirih namun penuh amarah yang tertahan. Di tengah konflik tambang yang terus membesar, ia tidak berbicara tentang politik, investasi, atau angka-angka pertumbuhan ekonomi. Ia hanya berbicara tentang hidup. Tentang damar. Tentang rotan. Tentang kopi. Dan tentang anaknya yang kini ditahan.

Namanya Jarina (78), Perempuan yang lahir di Latoma itu menghabiskan sebagian besar hidupnya di wilayah pedalaman Routa setelah menikah dengan almarhum Paladong, lelaki kelahiran Routa yang tumbuh besar di Tula-Tula.

Puluhan tahun lalu, sebelum jalan hauling tambang membelah wilayah mereka, sebelum alat berat datang mengubah bentang hutan menjadi kawasan industri, hidup Jarina berjalan sederhana bersama keluarganya.

“Saya sekolah di SR Mopute dan tinggal di Epe. Kami cari hidup di sana dari damar, rotan, dan kopi untuk menghidupi anak-anak kami,” tuturnya pelan.

Bagi Jarina, tanah bukan sekadar hamparan yang bisa diukur dengan koordinat dan peta konsesi. Tanah adalah tempat membesarkan anak, menyimpan kenangan keluarga, dan bertahan hidup dari generasi ke generasi.

Di kebun kopi itulah keluarganya hidup. Di hutan itulah mereka mencari damar dan rotan. Dan di tanah itu pula kini konflik datang.

Ketika Tambang Datang ke Ruang Hidup

Masuknya aktivitas pertambangan PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) di Routa menjadi titik balik bagi banyak warga di wilayah tersebut. Jalan tambang mulai melintasi kebun warga. Lahan-lahan yang selama ini dikelola masyarakat perlahan berubah menjadi jalur industri.

Bagi sebagian warga, kehadiran tambang dianggap membawa pembangunan. Namun bagi banyak keluarga petani di Routa, situasinya justru menghadirkan ketakutan baru: kehilangan ruang hidup mereka sendiri.

Jarina mengaku tidak pernah membayangkan hidupnya akan sampai pada titik ketika keluarganya harus berhadapan dengan aparat penegak hukum.

“Hanya karena untuk kehidupan kami sehari-hari, tiba-tiba ada perusahaan datang merampas dan mengobrak-abrik tanaman kami,” katanya dengan suara bergetar.

Kekecewaan itu semakin dalam ketika anaknya ikut terseret dalam perkara hukum yang kini memicu gelombang protes masyarakat Routa. Ia menyebut keluarganya bukan pelaku kejahatan. Mereka hanya petani.

“Anak Saya Dik kriminalisasi”

Di tengah meningkatnya ketegangan konflik agraria di Routa, tiga warga dilaporkan dan ditahan oleh Polda Sulawesi Tenggara atas dugaan “perusakan” dan “kekerasan bersama”.

Namun bagi Jarina, proses hukum itu terasa seperti pukulan terhadap keluarga yang selama ini hanya bergantung pada kebun dan hasil hutan.

“Saya sangat mengecam perbuatan perusahaan, pemerintah, dan Polda Sulawesi Tenggara yang telah mengkriminalisasi anak saya,” ucapnya via telepon kepada suarapinggiran.com

Kalimat itu keluar tanpa retorika. Tanpa istilah hukum. Tanpa teori HAM. Hanya suara seorang ibu yang merasa keluarganya sedang kehilangan keadilan.

Konflik yang Lebih Besar dari Sekadar Kasus Pidana

Kasus Routa kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai perkara hukum biasa. Berbagai organisasi lingkungan dan HAM menilai konflik tersebut berkaitan erat dengan persoalan wilayah adat, hak atas tanah, dan ruang hidup masyarakat lokal yang telah dikelola turun-temurun sebelum hadirnya industri tambang.

Kebun kopi milik warga menjadi salah satu simbol paling nyata dari hubungan masyarakat dengan tanah mereka.

Bagi warga seperti Jarina, kopi bukan komoditas semata. Kopi adalah sejarah keluarga.Adalah warisan. Adalah alasan mereka bertahan hidup di pedalaman Routa selama puluhan tahun.

Karena itu ketika kebun-kebun tersebut terganggu oleh aktivitas industri, yang hilang bukan hanya tanaman, tetapi juga rasa aman dan masa depan keluarga.

Suara dari Pinggir Tambang, Di tengah hiruk-pikuk investasi nikel dan ambisi hilirisasi nasional, suara seperti Jarina mungkin terdengar kecil. Namun dari rumah-rumah sederhana di Routa, keresahan itu terus tumbuh.

Tentang tanah yang berubah. Tentang kebun yang hilang. Tentang anak-anak petani yang kini berhadapan dengan penjara.

Dan di balik semua itu, ada seorang ibu yang hanya ingin hidupnya kembali seperti dulu: mencari damar, memanen kopi, dan membesarkan anak-anaknya dengan tenang di tanah yang mereka yakini sebagai warisan leluhur mereka sendiri.(*)

Laporan: Jumat Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *