Pemuda Muna Ajak Warga Sambut Riang Gembira Silaturahmi Akbar KKMM Sultra
3 min read
Menjelang pelaksanaan Silaturahmi Akbar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara yang dibalut dalam pergelaran festival budaya pada 19 Juli 2026, gelombang dukungan moril dari berbagai elemen masyarakat terus mengalir deras.
Kali ini, seruan positif datang dari kalangan pemuda di Kabupaten Muna. Salah satunya datang dari seorang pemuda, Yogi Bonea, yang mengajak seluruh masyarakat untuk menyambut agenda kultural ini dengan riang gembira dan pikiran yang terbuka.
Menurut Yogi, perhelatan akbar masyarakat Muna di perantauan yang bertajuk “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat, dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045” ini dirancang sebagai momentum strategis untuk mempererat solidaritas. Kegiatan yang diproyeksikan menjadi ruang perjumpaan dengan mengedepankan nilai kekeluargaan.
Dampak Positif Silaturahmi Akbar KKMM Sultra bagi Masyarakat
Sebagai ibu kota provinsi, lanjut Yogi, bahwa kota Kendari dinilai sebagai lokasi sentral yang paling strategis dan mudah dijangkau oleh seluruh perantau atau diaspora Muna dari berbagai wilayah.
“Pemilihan lokasinya, tidak hanya memfasilitasi pertemuan ribuan warga yang selama ini terpisah oleh jarak, tetapi juga diyakini akan menghidupkan roda perekonomian, khususnya bagi pelaku UMKM lokal yang berada di sekitar lokasi kegiatan,” ungkap Yogi, Kamis, 2 Juli 2026.
Salah satu agenda utama yang memantik antusiasme luar biasa adalah pemecahan Rekor MURI melalui penyajian 1200 dulang Haroa. Untuk merealisasikan hal tersebut, panitia membuka ruang donasi yang ternyata disambut positif oleh berbagai kalangan. Fenomena ini membuktikan tingginya tingkat partisipasi dan rasa kepemilikan warga terhadap pelestarian tradisi leluhur.
“Selain pesta budaya, panitia juga tengah menyiapkan peluncuran sejumlah program positif yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga, menjadikan acara ini tidak sekadar seremonial belaka,” jelasnya.
Inisiasi Lintas Generasi Merawat Identitas Leluhur
Lebih lanjut Yogi mengatakan, bahwa di balik kemegahan rencana kegiatan tersebut, terdapat kolaborasi solid dari berbagai tokoh lintas generasi. Penggerak dan pencetus festival budaya bukan hanya berasal dari kalangan birokrasi, melainkan melibatkan akademisi, profesor, budayawan, pengusaha, praktisi hukum, hingga tokoh pemuda yang memiliki darah keturunan Muna.
Agenda besar ini juga dipastikan akan dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi di Sulawesi Tenggara, termasuk Gubernur, Wakil Gubernur, dan kepala daerah setempat. Bahkan, Majelis Adat Kabupaten Muna menjadwalkan prosesi penganugerahan gelar adat kepada Gubernur Sultra, Andi Sumangkeruka, sebuah langkah yang memperkuat sinergi antara entitas adat dan elemen pemerintahan demi menjaga stabilitas dan harmonisasi pembangunan daerah.
Menepis Narasi Politik Melalui Kejernihan Berpikir
Namun, seiring dengan eskalasi persiapan acara, muncul beragam perspektif di ruang publik. Sebagian pihak mengaitkan silaturahmi akbar ini dengan konsolidasi politik terselubung. Olehnya, menanggapi dinamika tersebut, Yogi, mengajak masyarakat untuk tetap menjaga objektivitas dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang menyimpang dari tujuan awal.
”Setiap penilaian yang dilontarkan ke publik haruslah objektif, agar tidak melahirkan perspektif liar dan terkesan memicu perpecahan di internal masyarakat Muna. Kejernihan berpikir kita mestinya tidak menolak kegiatan mulia ini, sebab di dalamnya terdapat esensi silaturahmi untuk merekatkan persaudaraan yang sempat renggang,” beber Yogi.
Yogi menilai, anggapan bahwa acara ini merupakan bentuk konsolidasi politik untuk kepentingan Ketua KKMM Sultra, La Ode Darwin, adalah sebuah kekeliruan berpikir. Ia mengingatkan bahwa tensi perpolitikan saat ini sedang mereda karena ajang Pilkada baru saja usai, sementara Pemilu masih cukup lama. Terlebih, acara ini digagas oleh banyak tokoh dengan spektrum latar belakang yang sangat beragam.
”Terlalu naif dan sempit jarak pandang kita jika melihat kegiatan ini murni sebagai agenda yang menyelipkan kepentingan politik semata. Silaturahmi dan politik adalah dua hal berbeda yang tidak selalu harus dikorelasikan secara negatif,” tegasnya mematahkan spekulasi.
Olehnya, ia berharap seluruh elemen masyarakat menyambut perhelatan akbar ini sebagai bentuk dukungan moral dalam menjaga eksistensi adat. Penilaian publik adalah hak demokrasi, namun idealnya harus dilandasi oleh kejernihan akal dan pandangan yang konstruktif.

