Sains dalam Gelap: Menelusuri Kejeniusan Astronomi – Oseanografi pada Kalender Pesuri Tolaki
5 min read
Sains dalam Gelap: Menelusuri Kejeniusan Astronomi – Oseanografi pada Kalender Pesuri Tolaki
Opini oleh : Jumran, S.IP (Sekretaris Jenderal Komunitas Masyarakat Adat Tolaki Sultra)
Sering kali, modernitas menjebak kita dalam kesombongan intelektual. Kita kerap menganggap bahwa sains tingkat tinggi mengenai ruang angkasa hanya lahir dari lensa teropong canggih NASA, catatan matematika bangsa Maya, atau teleskop canggih di Eropa. Kita lupa membalikkan wajah pada bumi Nusantara. Di pedalaman Sulawesi Tenggara, leluhur suku Tolaki telah lama mematahkan stigma tersebut. Melalui sistem penanggalan kuno yang disebut Pesuri atau Pewula-wulaa, mereka membuktikan bahwa pembacaan langit malam bukan monopoli peradaban Barat, melainkan sains lokal yang presisi, empiris, sekaligus kosmologis.
Pesuri tidak sekadar berfungsi sebagai alat penghitung pergantian hari, melainkan sebuah manifestasi etnoastronomi yang menjembatani keteraturan visual benda langit dengan manajemen kehidupan manusia.
Kejeniusan Matematika Alam: Membaca Simetri Kosmis
Jika kita membedah isi dokumen kuno Pesuri Tolaki, ada satu fenomena visual yang kerap mengundang dahi berkerut bagi pembaca awam: kemunculan sejumlah nama hari yang kembar dalam satu bulan Hijriah yang sama. Kasus terbaik untuk melihat ini adalah pada sejumlah penamaan kembar (contoh; Mehauhau) yang tertulis ganda—yakni pada tanggal 6 Hijriah dan muncul kembali pada tanggal 21 Hijriah. Apakah ini sebuah kelalaian ortografi atau kesalahan salin dari juru tulis kuno? Sama sekali tidak. Ini adalah puncak kejeniusan matematika alam.
Secara astronomi modern, kita mengetahui bahwa satelit alami bumi ini memerlukan waktu rata-rata 14,7 hari untuk tumbuh dari hilal (bulan baru) menuju bundaran utuh (waxing phase), dan memerlukan waktu yang hampir sama persis untuk menyusut kembali dari purnama menuju kegelapan mutlak (waning phase). Sifat pergerakan bulan ini bersifat simetris visual.
Leluhur suku Tolaki menangkap hukum fisika antariksa ini dengan sangat cermat tanpa bantuan teleskop optik. Mereka melihat bahwa bentuk lengkungan cahaya bulan pada hari ke-6 (saat bulan muda) memiliki kembaran rupa yang identik dengan bentuk bulan pada hari ke-21 (saat bulan tua). Alih-alih menciptakan 30 nama yang berbeda dan membingungkan bagi masyarakat agraris, mereka merancang rumus praktis 15 harian yang dijalankan secara paralel dalam dua putaran. Pola interaksi nama seperti Riolo, Merawesi, dan Mehauhau (dan seterusnya) yang terulang di paruh kedua bulan adalah bukti empiris bahwa masyarakat Tolaki kuno telah menguasai konsep keseimbangan geometri alam semesta.
Bedah Kasus Ekologis: Rahasia Sains di Balik Tombaranggawe dan Matatindo
Pernyataan bahwa Pesuri adalah bentuk mitigasi risiko komunal dapat dibuktikan secara gamblang jika kita menelusuri detail isi teks dokumennya. Kalender ini bukanlah jimat mistis, melainkan lembar observasi biologi dan Oseanografi yang sangat maju.
Mari kita bedah contoh pertama pada penanda Tombaranggawe (hari ke-4 Hijriah). Dokumen mencatat maknanya: “Baik untuk menanam yang dimakan tikus…”. Mengapa leluhur mengaitkannya secara spesifik dengan tikus? Secara sains modern, pada hari ke-4 Hijriah, bulan masih berbentuk sabit sangat tipis sehingga malam hari cenderung gelap gulita. Tikus adalah hewan nokturnal yang perilakunya sangat dipengaruhi intensitas cahaya; mereka sangat aktif bergerak dan mencari makan dalam kegelapan pekat demi menghindari predator. Mengarahkan penanaman komunal pada fase ini adalah taktik jenius untuk menyelaraskan awal usia benih dengan puncak aktivitas biologis hama, sehingga masyarakat dapat melakukan pencegahan serempak sebelum populasi tikus meledak saat bulan terang di pertengahan bulan.
Contoh kedua yang tidak kalah menakjubkan ada pada penanda Matatindo (hari ke-7 Hijriah) yang bermakna “Baik untuk mencari ikan”. Mengapa para nelayan Tolaki kuno diarahkan melaut pada hari ke-7? Dalam ilmu oseanografi fisika, hari ke-7 Hijriah menandakan fase Bulan Kuartir Pertama (bulan setengah). Pada titik ini, posisi Matahari, Bumi, dan Bulan membentuk sudut tegak lurus (90 derajat), sehingga gaya tarik gravitasinya saling melemahkan. Fenomena ini memicu terjadinya Pasang Surut Perbani (Neap Tide), yaitu kondisi di mana air laut bergerak sangat stabil, arus bawah laut tenang, dan risiko terjadinya badai pasang sangat minim. Lautan menjadi lingkungan yang sangat aman bagi perahu tradisional, sekaligus momen di mana ikan-ikan naik ke kolom air yang terjangkau oleh jaring nelayan.

Melampaui Visual: Fisika Gravitasi dalam Balutan Adat
Dari dua studi kasus di atas, kita tersadar bahwa letak lompatan kecerdasan sosiokultural leluhur Tolaki tidak berhenti pada tebakan rupa bulan. Sains modern menyatakan bahwa meskipun bentuk bulan pada fase waxing (tumbuh) dan waning (susut) terlihat sama di mata, dampak tarikan gravitasi terhadap metabolisme makhluk hidup di bumi sangatlah bertolak belakang. Fase bulan muda memicu pertumbuhan energi biologis, sementara fase bulan tua memicu perlambatan.
Di sinilah kearifan lokal Tolaki bertransformasi menjadi panduan hidup yang luar biasa. Meskipun mereka menamai sejumlah hari dengan kembar, (contoh: hari ke-6 dan hari ke-21 dengan nama yang sama yakni Mehauhau), mereka memberikan makna penanda yang berbalik arah.
- Mehauhau Pertama (Hari ke-6): Diberi marka positif, sebagai waktu terbaik untuk membangun rumah, melangsungkan pernikahan, atau memulai perdagangan karena energi alam sedang tumbuh menuju puncak (purnama).
- Mehauhau Kedua (Hari ke-21): Diberi marka negatif, sebagai waktu pantangan untuk urusan krusial dan menghadap otoritas karena bumi sedang menghadapi penyusutan energi alam menuju bulan mati.
Ketika kalender adat menyatakan suatu hari “tidak baik semua kegiatan” (seperti hari Merawesi atau Matandeue), itu adalah cara kultural leluhur memaksa masyarakat untuk beristirahat secara serentak, melakukan perawatan alat produksi, atau menghindari cuaca ekstrem yang sudah mereka amati polanya secara empiris selama ratusan tahun
Sinkronisasi yang Fleksibel dan Dinamis
Kelebihan lain dari sistem Pesuri ini adalah sifatnya yang tidak kaku. Penanggalan tradisional sering kali runtuh karena gagal menyelaraskan diri dengan pergeseran musim tahunan (seperti kasus kalender Solar). Namun, Pesuri Tolaki secara adaptif mengunci mekanismenya di atas garis waktu kalender Hijriah. Karena kalender Hijriah bergerak selaras dengan fase bulan nyata, kalender Pesuri tidak akan pernah mengalami kerancuan atau kedaluwarsa. Begitu bulan Hijriah baru lahir—apakah itu Muharram, Safar, atau Rajab—sistem Pesuri secara otomatis melakukan reset instan kembali ke hari pertama (Mata Loso).
Ini membuktikan adanya integrasi spiritual dan intelektual yang tinggi. Masuknya pengaruh Islam di tanah Tolaki tidak memberangus sains lokal ini, melainkan memperkayanya, menciptakan harmoni antara syariat dengan pembacaan tanda-tanda kebesaran Tuhan di alam semesta.
Warisan Ilmuwan Alam yang Terlupakan
Mengkaji kembali anatomi kalender Pesuri Tolaki di tengah gempuran era digital saat ini seharusnya melahirkan refleksi yang mendalam bagi generasi muda Sultra. Leluhur Tolaki bukan sekadar para peladang atau peramu yang pasif terhadap alam. Mereka adalah para perenung, pengamat, dan ilmuwan alam yang ulung. Mereka berhasil menyederhanakan rumitnya mekanika ekosistem antariksa menjadi lembar panduan hidup praktis yang menyejahterakan peradaban mereka selama berabad-abad.
Menjaga Kalender Pesuri hari ini bukan sekadar urusan romantisasi masa lalu atau melestarikan eksotisme ritual adat. Ini adalah urusan menyelamatkan monumen intelektual milik bangsa. Sudah saatnya institusi pendidikan dan kebudayaan di Sulawesi Tenggara membedah kalender ini dari sudut pandang sains modern, agar dunia tahu bahwa dari bumi Konawe, kecerdasan membaca langit pernah terpancar dengan sangat terang.(*)

