LESTARI BUDAYA

Juni 20, 2026

SUARA AKAR RUMPUT

SENI YANG MULAI MENUA DAN TETAP BERTAHAN

1 min read

SENI YANG MULAI MENUA DAN TETAP BERTAHAN

Seni dilahirkan dari nyala yang tak pernah padam. Di masa mudanya ia adalah badai—lantang, gelisah, dan berani menembus batas yang kaku. Ia menulis dengan napas yang memburu, melukis dengan amarah yang jujur, menyanyi dengan luka yang terbuka. Dunia dipaksa terjaga oleh suaranya. Namun waktu adalah pelukis paling sabar. Ia mengajari seni bahwa tidak semua gema harus keras untuk didengar. Perlahan, bara yang membakar berubah menjadi cahaya yang menenangkan.

Ketika usia mulai mengeriputkan kanvas dan melambatkan nada, seni tidak mati. Ia hanya berganti bahasa. Jika dulu ia berteriak agar dilihat, kini ia berbisik agar dirasa. Kedalaman menggantikan kecepatan, kebijaksanaan menggantikan keberanian. Karya-karyanya menjadi seperti senja: tidak lagi menyilaukan, tetapi mampu membuat setiap mata berhenti dan merenung. Di sanalah letak kekuatannya—bukan pada denting yang memecah, tetapi pada hening yang menyembuhkan.

Seni yang bertahan hingga tua adalah seni yang telah berdamai dengan dirinya. Ia tahu tubuh akan lelah, nama akan pudar, sorotan akan berpindah. Maka ia memilih jalan yang lebih abadi: mewariskan. Ia menjadi pelita bagi langkah yang datang kemudian, menjadi guru yang diam bagi tangan-tangan muda yang gelisah. Jasadnya boleh menua, tetapi semangatnya menolak mati. Selama masih ada satu hati yang bergetar karenanya, selama itu pula seni akan hidup—tua, lembut, dan abadi seperti doa.

Oleh : HERRY TANY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *