Juli 13, 2024

SUARA AKAR RUMPUT

Kampung Sihir

6 min read

oleh : Kartika

Bonu sangat penasaran dengan satu kampung yang sering di sebutkan orang-orang tapi dia sama sekali belum pernah mengunjunginya. Kampung Sanggau, letaknya berada di bagian paling ujung, terpisah dari desa lain. Satu wilayah kecamatan memiliki 13 kampung, dan kampung Sanggau berada di urutan ke-13. 

Bonu sudah berapa kali mengajak Kestu untuk menemaninya ke sana tapi dia selalu menolak. Hari itu, ajakan ke sepuluh kalinya yang diucapkan Bonu kepada Kestu. 

“Kestu, ayolah aku penasaran dengan kampung Sanggau. Sejak aku remaja belum pernah sekalipun aku lihat kampung Sanggau.”

“Untuk apa ke sana, di sana sama seperti di sini. Tidak ada yang istimewa.”

Jawaban Kestu semakin membuat Bonu makin penasaran. Jika tidak istimewa mengapa orang sering menyebut nama kampung itu dan seperti berhati-hati. 

“Kamu kalau penasaran, ajak Tuin saja ke sana. Dia tau benar situasi di kampung Sanggau.”

Ucapan Kestu membuat Bonu bersemangat untuk segera pergi ke sana. Bonu membuat janji dengan Tuin akan pergi jam 10 pagi. Mereka naik motor menuju Sanggau dengan jarak 10 km dari tempat tinggal mereka. 

“Bonu, kamu akan ke rumah siapa?” tanya Tuin. 

“Tidak ada, aku hanya ingin ke tempat mata air yang ada di desa Sanggau. Apa kamu tau tempatnya?”

“Iya aku tau, ayo kita berangkat.”

Tuin dan Bonu naik motor ke sana. Karena itu pertama kalinya Bonu merasa sangat asing sepanjang perjalanan. Setelah melewati kampung sebelumnya, mereka melewati kebun kelapa yang penuh semak dan kuburan-kuburan warga. 

“Tuin, banyak sekali kuburan di sini dan tidak teratur. Apa tidak dibuat pemakaman umum?”

“Tidak ada, di sini terserah mau dikuburkan di mana tapi kebanyakan dikuburkan di tanah milik keluarga.”

Tuin masih melajukan motor dengan kecepatan sedang. Bagi Bonu jalan menuju Sanggau sangat lama dan panjang. Di tengah jalan Tuin berhenti dan turun dari motor.

“Kamu kenapa bawa snack segala untuk apa?” tanya Tuin sambil memindahkan snack yang digantung di stang motor ke dalam jok.”

“Aku bawa saja, siapa tau kita sempat singgah di mata air dan istirahat sambil makan snack.”

“Lain kali tidak usah bawa, ini aku pindahkan ke jok motor.” 

Tingkah Tuin sedikit absurd bagi Bonu. Karena enggan bertanya lagi dia diam saja hingga motor mereka memasuki gerbang kampung Sanggau. Bonu melihat aktivitas yang normal, para warga yang sedang menyapu di depan rumah, ada beberapa laki-laki yang bercengkrama di halaman. Anak-anak berseragam yang menuju sekolah. Benar kata Kestu tidak ada hal yang istimewa. 

Tuin memutari kampung hingga ke ujung. Saat turun dari motor Bonu melihat aliran sungai. 

“Ini air sungai dari sumber mata air?” tanya Bonu penasaran.”

“Mungkin, aku belum pernah ke sumber mata air.”

Bonu menggulung celana panjangnya untuk bisa turun dan mencuci kaki. 

“Ayolah, Tuin. Kita ke sana sekarang. Aku ingin mengambil gambar yang bagus di sumber mata air.”

“Ayo kita pulang dulu, nanti kita panggil dengan orang yang sudah pernah ke sana.”

Bonu tidak membantah, tetapi dia merasa aneh. Ketika belum pergi, Tuin mengatakan dia tau tempatnya, setelah sampai di kampung dia menyangkal, tidak tau tempat mata air itu di mana. Karena enggan berdebat Bonu segera naik motor kembali dan menuju jalan semula. Bonu melihat tatapan-tatapan asing dari warga sekitar yang melihat mereka berdua. Ada aura menyeramkan yang hadir saat Bonu memutar arah ke jalan gang kecil dan melewati lapangan. 

Tuin sedikit menambah kecepatan agar cepat ke luar dari perkampungan.

“Bonu, aku tidak mau mengantarmu lagi.”

“Kenapa, Tuin?”

“Kampung ini terkenal dengan ilmu Hitam, aku takut terkena guna-guna.”

“Apa? Ilmu Hitam? Di zaman modern masih ada yang memakainya?” Tidak masuk akal. Pantas saja kamu memasukkan snack ke dalam jok motor, kamu takut makanan itu dikirimkan mantra?”

“Iya, sudah banyak yang mengalaminya usai datang ke sana. Asal kamu tau, kampung Sanggau baru saja mendapat listrik dari pemerintah padahal di 12 kampung lain sudah sejak 20 tahun yang lalu.”

“Apa hubungannya dengan ilmu hitam, Tuin?”

“Entah mungkin kengerian di sana akan hilang jika ada cahaya, hingga mereka tidak begitu peduli dengan gelap.”

Bonu tertawa mendengar ucapan terakhir Tuin. Bagaimana mungkin mereka sengaja mempertahankan kegelapan, padahal tadi dia melihat rumah-rumah di sana sudah bagus dan banyak yang sekolah. Kemajuan ilmu di antara orang-orang bagi Bonu akan mematahkan pemikiran lama seperti ilmu hitam. Namun keadaan itu membuat Bonu makin penasaran sebenarnya apa yang terjadi di sana. 

Bonu memang seorang wartawan, saat mendapat hal yang tidak jelas, dia akan mencari tau hingga jelas. Setelah pulang dengan Tuin, Bonu berencana ke sana lagi nanti malam. Dia akan  ke sana sendiri untuk melihat keadaan kampung Sanggau di malam hari. 

Bonu hanya mengisi motornya dengan bensin agar tidak mogok di tengah jalan. Pukul delapan malam dia ke sana. Di jalan kampung kala itu sangat sepi, tidak ada aktivitas berarti yang dilakukan warga. Ada tiga orang pemuda sedang duduk di pos ronda. Bonu berhenti di sana. 

“Permisi, Bang. Boleh gabung di sini?” tanya Bonu sambil memarkir motor.

“Boleh, boleh. Silakan. Abang dari mana?” tanya salah seorang yang lebih muda. 

“Saya dari kampung Suna. Ingin jalan-jalan aja Bang, cari teman baru.” 

“Silakan duduk, Dek.” Kata pria yang lebih tua di antara mereka. Saya Usni.”

“Saya Bonu.”

Mereka berempat bercerita keadaan kampung. Kata Usni mereka sangat bersyukur bahwa listrik sudah normal siang dan malam. Anak-anak mudah untuk belajar di malam hari. Komunikasi juga sudah tidak sesuai dulu. Bonu meminta izin kepada mereka untuk menulis berita. Usni dan dua temannya tidak keberatan menjadi nara sumber. 

Bonu mencatat semua yang diperlukan. Saat sudah menjelang pukul sepuluh malam, Bonu bersiap pamit. Mereka bersalaman dengan ramah dan meminta Bonu untuk datang lagi ke rumah mereka. Usni senang ada seseorang yang datang dan mau menulis tentang keadaan desa mereka. Selama ini desa Sanggau hanya diberitakan sebagai desa yang menyeramkan dan penuh dengan praktik ilmu hitam. 

Bonu membunyikan motor dan berlalu dari sana. Suasana kampung sangat sepi kala itu. Setelah berada di gerbang, Bonu mematikan mesin  dan menyembunyikan motornya di antara semak. Dia berniat kembali ke sekitar kampung dan memeriksa keadaan. 

Bonu berjalan perlahan, mencoba tidak terlihat mencolok tetapi juga tidak mencurigakan. Sebisa mungkin menyembunyikan diri. Di antar pos ronda, mereka bertiga sudah tidak ada. Hanya ada seseorang di sana dan seperti orang yang Bonu kenal. 

Bonu mendekat dari arah belakang pos ronda. Orang itu adalah Tuin, tetangganya di kampung. Dia hendak menyapa sebelum Bonu mendengar ucapan Tuin. 

“Pak, bagaimana ini, sepertinya Bonu tidak menyerah untuk membuat berita.” Kata Tuin di telepon. 

Bonu mengurungkan niat untuk menyapa. Dia memilih mendengarkan pembicaraan Tuin lewat telepon. Dia tidak menggunakan loudspeaker tapi volumenya terdengar karena Bonu menunduk di bawah dinding pos ronda. 

“Sudah kamu kirim saja teluh, atau guna-guna seperti yang kamu ceritakan kepada orang-orang.” Kata suara di telepon. 

“Tidak bisa, Pak kepala. Itu kan hanya karangan kita saja supaya desa ini selalu tertinggal.”

“Tidak bisa, kamu harus selesaikan soal si wartawan itu. Kenyataan bahwa kita memanipulasi situasi tidak boleh bocor. Kita bisa jatuh miskin kalau anggaran pembangunan desa sampai ke mereka.”

“Jadi, kita harus bagaimana, Pak?” tanya Tuin memastikan menerima perintah.

“Kamu ajak bertemu saja si wartawan itu. Beri dia amplop dan isinya nanti saya transfer sama kamu. Kalau seratus J, cukup apa tidak, Tuin?”

“Cukup-cukup, Pak. Saya yakin dia akan memilih uang daripada menerbitkan berita tanpa dibayar.”

Tuin tersenyum senang usai menutup telepon. Bonu merekam ucapan Tuin meskipun tidak begitu jelas. Dia bisa memakai aplikasi penjernih suara dan menambahkan translate karena dia tau semua ucapan mereka berdua. 

“Enak saja, Bonu mau dikasih 100 Juta. Dua puluh saja aku kasih dia, delapan puluh bisa aku pakai beli motor baru.” Kata Tuin sambil berlalu pergi dari pos ronda. 

Kegembiraan Tuin menerima transfer dari atasannya membuat dia abai dengan situasi sekitar. Bonu membiarkan Tuin pergi lebih dulu agar tidak ketahuan. 

**

“Jadi selama ini desa Sanggau sarang ilmu Hitam itu ulah oknum, termasuk Tuin?”

“Iya benar, aku tidak menyangka jika mereka berkomplot dari tingkat provinsi hingga desa.”

Suara riuh rendah orang-orang membicarakan berita yang diterbitkan oleh Bonu. Dalam dua hari tajuk berita tentang desa Sanggau menjadi viral. Setelah terbit berita itu, pejabat berwenang mulai menelusuri dan mengusut tuntas dugaan-dugaan manipulasi yang dilakukan Tuin dan komplotannya. 

“Terima kasih, Bang Bonu. Karena kamu, desa kami akan mendapat perhatian seperti desa lain.” Kata Usni mewakit teman-temannya. 

“Sama-sama, Bang. Saya senang bisa membantu.”

20 Januari 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *