Solidaritas Mahasiswa untuk Routa, LMND & GMNI SULTRA Turun Langsung Bela Masyarakat Adat
2 min read
Solidaritas Mahasiswa untuk Routa, LMND & GMNI SULTRA Turun Langsung Bela Masyarakat Adat
Kendari, suara pinggiran.com – Gelombang perlawanan terhadap rencana produksi 27 juta ton nikel di Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, terus meluas. Seruan penghentian produksi sebelum pembangunan smelter direalisasikan kini mendapat dukungan terbuka dari EW LMND SULTRA (Eksekutif Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) dan GMNI Sultra.
Ketua EW LMND SULTRA, La Ode Ardiansyah, turun langsung dalam barisan Aksi Save Routa dan Masyarakat Adat Tolaki, menyatakan sikap tegas terhadap rencana produksi besar-besaran oleh PT Sulawesi Cahaya Mineral.
Dalam orasinya, Ardiansyah menegaskan bahwa produksi 27 juta ton tidak boleh dijalankan apabila kewajiban fundamental perusahaan, terutama pembangunan smelter sebagai bagian dari mandat hilirisasi, belum direalisasikan.
“Save Routa bukan sekadar slogan. Ini adalah perjuangan mempertahankan hak hidup masyarakat adat dan masa depan lingkungan. Jika smelter belum dibangun, maka 27 juta ton harus dihentikan,” tegasnya di hadapan massa aksi.
Hilirisasi Harus Nyata, Bukan Retorika
EW LMND SULTRA menilai bahwa kebijakan hilirisasi tidak boleh berhenti pada narasi nasional, tetapi harus terwujud konkret di wilayah tambang. Produksi besar tanpa pembangunan fasilitas pengolahan dinilai sebagai bentuk ketimpangan kebijakan yang merugikan daerah penghasil.
Ardiansyah juga menyoroti dampak sosial dan ekologis yang berpotensi meningkat apabila eksploitasi terus diperluas tanpa kepastian tanggung jawab lingkungan dan sosial.
Dukungan Penuh untuk Masyarakat Adat
Keterlibatan EW LMND SULTRA dalam Aksi Save Routa dan Masyarakat Adat Tolaki ditegaskan sebagai bentuk solidaritas politik dan moral terhadap perjuangan masyarakat adat yang mempertahankan wilayah, ruang hidup, dan hak-haknya.
Bagi LMND, perjuangan ini bukan hanya soal angka produksi, melainkan soal keadilan pembangunan di Sulawesi Tenggara—apakah berpihak pada rakyat atau tunduk pada ekspansi modal.
Desakan Sikap
EW LMND SULTRA menyatakan:
1. Hentikan rencana produksi 27 juta ton sebelum smelter dibangun.
2. Buka secara transparan seluruh dokumen dan kewajiban perusahaan.
3. Audit menyeluruh pelaksanaan PPM dan tanggung jawab sosial perusahaan.
4. Pastikan perlindungan hak Masyarakat Adat Tolaki dan partisipasi publik yang bermakna.
Aksi ini menjadi sinyal bahwa isu Routa telah menjelma menjadi konsolidasi gerakan rakyat dan mahasiswa. Save Routa bukan sekadar perlawanan, melainkan tuntutan agar pembangunan berjalan adil, transparan, dan bermartabat.(*)
Laporan: Umar Dafani

