May Day 2026, 10 Ribu Massa Aksi KASBI & GEBRAK Geruduk DPR RI; Tolak Kapitalisme hingga Militerisme
3 min read
May Day 2026, 10 Ribu Massa Aksi KASBI & GEBRAK Geruduk DPR RI; Tolak Kapitalisme hingga Militerisme
JAKARTA, suarapinggiran.com – Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) bersama Aliansi GEBRAK memastikan akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day), 1 Mei 2026. Aksi dipusatkan di depan Gedung DPR RI, Jakarta, dengan estimasi massa mencapai 10.000 orang.
Mengusung tema #MayDayBersamaRakyat dengan slogan “Lawan Kapitalisme, Imperialisme, Militerisme: Wujudkan Kerja Layak, Upah Layak dan Hidup Layak”, aksi ini ditegaskan sebagai gerakan independen dan tidak terafiliasi dengan perayaan “May Day Fiesta” yang digelar di kawasan Monas.
Ketua Umum Konfederasi KASBI, Sunarno, menyatakan bahwa kondisi riil perburuhan di Indonesia masih memprihatinkan. Karena itu, KASBI dan Aliansi GEBRAK memilih jalur aksi massa ketimbang menghadiri perayaan seremonial bersama pemerintah.
“May Day bukan pesta. Ini momentum perlawanan terhadap eksploitasi dan ketidakadilan yang masih dialami buruh hari ini,” tegasnya.
Kritik Sistem Kerja Fleksibel dan UU Cipta Kerja
KASBI menilai kebijakan ketenagakerjaan saat ini semakin menguatkan skema labour market flexibility yang membuat status kerja buruh tidak pasti. Sistem kerja kontrak, outsourcing, hingga kemitraan disebut memperlemah jaminan hak normatif pekerja.
Menurut KASBI, penguatan sistem tersebut diperparah oleh regulasi turunan dari Undang-Undang Cipta Kerja, termasuk PP Nomor 35 Tahun 2021, yang dinilai membuka ruang pelanggaran hak buruh secara masif.
Sejumlah persoalan yang disorot antara lain:
1. Upah di bawah UMK,
2. Jam kerja panjang,
3..Minim jaminan sosial,
4. Pelanggaran keselamatan dan kesehatan kerja (K3), dan
5. Maraknya PHK dan pemberangusan serikat.
Soroti Militerisme di Ranah Sipil
Tak hanya isu ketenagakerjaan, KASBI juga mengkritik arah pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka yang dinilai menguatkan kembali praktik militerisme di ranah sipil.
Sejumlah proyek strategis nasional seperti MBG, PSN, Danantara, dan Agrinas disebut sarat kepentingan kekuasaan, praktik KKN, serta berpotensi membungkam kritik publik. KASBI menuding dalam dua tahun terakhir terjadi tindakan kekerasan dan kriminalisasi terhadap aktivis gerakan rakyat.
Sepuluh Tuntutan Buruh
Dalam aksi 1 Mei mendatang, KASBI dan Aliansi GEBRAK membawa sepuluh tuntutan utama:
1. Wujudkan UU Ketenagakerjaan pro-buruh pasca putusan MK No.168 terkait Omnibus Law;
2. Reformasi sistem pengupahan dan hapus disparitas upah nasional;
3. Hapus outsourcing, kerja kontrak, kemitraan palsu, dan magang eksploitatif;
4. Ratifikasi Konvensi ILO 188 dan 190, lindungi buruh perempuan dan disabilitas;
5. Sejahterakan tenaga pendidik, dosen, pekerja platform, serta tenaga medis;
6. Stop PHK massal dan pemberangusan serikat;
7. Wujudkan pendidikan dan kesehatan gratis serta berkualitas;
8. Tegakkan supremasi sipil, hentikan militerisme dan kriminalisasi aktivis;
9. Jalankan reforma agraria sejati dan hentikan penggusuran tanah rakyat;
10. Hentikan perang dan nyatakan solidaritas untuk Palestina, Iran, Venezuela, dan Kuba.
Aksi Serentak di 20+ Daerah
Selain di Jakarta, KASBI juga akan menggelar aksi serentak di berbagai daerah, antara lain Indramayu, Garut, Tasikmalaya, Semarang, Surabaya, Bandar Lampung, Palembang, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Sambas, Kutai Timur, Berau, Bulungan, Makassar, Morowali, Gorontalo, Halmahera Tengah, dan Sumbawa.
KASBI menegaskan bahwa May Day harus kembali pada akar sejarahnya sebagai hari perlawanan kelas pekerja terhadap eksploitasi, bukan sekadar parade simbolik.
“Gerakan buruh sejati harus mandiri dan tidak dijinakkan oleh kepentingan modal maupun kekuasaan politik. Kesadaran buruh harus berdiri di atas kepentingan kelas pekerja, bukan elit,” tutup Sunarno.(*)
Laporan : Samsunar
Salam Juang. Selamat Hari Buruh Internasional 2026. #MayDayBersamaRakyat

