Juli 13, 2024

SUARA AKAR RUMPUT

Warga Morosi Kapoiala Lakukan Aksi Tutup Jalan Hauling PT OSS

2 min read

Konawe, suarapinggiran.com –

Hari ini warga Morosi dan Kapoiala melakukkan aksi demonstrasi dengan menutup akses jalan hauling milik PT OSS (Kamis, 4 Juli 2024).

Aksi demonstrasi ini dipicu karena keberadaan PLTU Captive milik PT VDNI dan OSS yang telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat sekitar perusahaan.

Diketahui, PLTU Captive milik perusahaan ini menggunakan energi fosil batu bara sebagai bahan bakar utama dalam pengoperasiannya.

Selain tidak ramah lingkungan, masyarakat di sekitar perusahaan terkena dampak dari berbagai aspek. Mulai dari pencemaran lingkungan yang merubah bentang alam di Kab. Morosi hingga dampak ekonomi dan konflik sosial juga dampak kesehatan.

Jalan hauling milik perusahaan melintasi beberapa jalan desa sehingga membuat jalan masyarakat rusak parah. Jika hujan jalanan berlumpur dan saat panas jalanan berdebu.

Akses jalan hauling ini melintasi lima (5) desa, Desa Kapoiala Baru, Lalimbue Jaya, Lalonggombuni, dan Desa Muara Sampara.

Massa Aksi yang tergabung dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Kapoiala menyoroti persoalan ini.

“Kami merasa harus melakukkan aksi penutupan jalan holling ini karena kami menganggap perusahaan mesti melaksanakan hak dan kewajibannya” tutur Madan selaku Kordinator Lapangan

“Dengan ini kami sangat berharap agar pihak perusahaan segera membeton jalan desa yang sudah di rusaki akibat aktivitas mereka” Tegas Madan.

Berdasarkan hasil riset Walhi Sultra, menemukan bahwa mayoritas masyarakat Morosi yang bermata pencaharian sebagai petani tambak sangat di rugikan akibat beroperasinya PLTU Captive.

“Batu baru yang digunakan PLTU Captive milik perusahaan PT OSS dan PT VDNI menimbulkan dampak pada produktivitas tambak ikan dan udang milik warga, banyak tambak-tambak yang terpaksa berhenti beroperasi” ungkap Didi mewakili WALHI Sultra

“Selain itu, dampak dari debu batu bara juga menyerang kesehatan masyarakat, dari data Puskesmas Morosi tahun 2020 kami menemukan bahwa, tren penyakit tertinggi yang dirasakkan masyarakat ada ISPA atau penyakit yang menyerang pernapasan” tukasnya lagi.(*)

Laporan : Feby Rahmayana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *